takdir dari sebuah "kebetulan" kecil

Ku awali tulisanku -yang “kebetulan” berawal dari buku kumal yang aku pinjam dari perpustakaan- dengan cuplikan dari permaian Joker, dimana seluruh kurcaci di pulau ajaib berdeklamasi bertahun-tahun lalu.
“Takdir adalah ular kelaparan yang menelan dirinya sendiri. Kotak bagian dalam tak membungkus kotak bagian luar, sama seperti kotak bagian luar tak membungkus kotak bagian dalam. Takdir itu seperti bongkol kembang kol yang tumbuh sama panjang ke segala arah.”
Sepenggal kisah dari novel berjudul Misteri Soliter karangan Jostein Gaarder yang menceritakan segala kebetulan yang terbungkus dalam takdir dan saling berkaitan satu sama lainnya. Berawal dari perjalanan Hans Thomas dan ayahnya untuk mencari ibunya yang pergi mencari jati dirinya ke kota para filosof, Athena, Yunani.
Dalam perjalanannya, Hans Thomas mendapatkan sebuah kaca pembesar dan buku kecil yang menjadi kunci utama segala kebetulan dalam perjalannannya ke Yunani.
Berawal dari buku kecil yang didapatnya dari seorang penjual roti di kota Dorf -kaki pegunungan Alpen- itu, Hans Thomas memulai perjalanan “kebetulan”-nya. Dikisahkan bahwa seorang pelaut tersesat kesebuah pulau yang ditinggali oleh 54 kurcaci yang memiliki identitas seperti dalam permainan kartu yaitu Sekop, Keriting, Wajik, Hati dan Joker.
Kemudian pecahan-pecahan misteri mulai terkuak melewati buku mungil yang ternyata berhubungan langsung dengan takdir Hans Thomas. Hingga berakhirlah kisah dalam buku mungil tersebut bersamaan dengan bertemunya Hans Thomas dengan ibunya di Athena.
Penghubung dari semua takdir yang terbungkus “kebetulan” tersebut adalah Joker. Sosok yang ketika bergerak akan menimbulkan bunyi gemerincing lonceng yang berisik. Joker dalam kisah ini adalah sebagai seorang yang mengetahui semua takdir yang terikat satu sama lain, dan setelah takdir itu terhubung dia menghilang di alam bebasnya.

Jostein Gaarder menceritakan sebuah cerita filsafat yang sangat apik yang memadukan fantasi, teka- teki dan filsafat. Buku Misteri Soliter ini membuat kita berpikir tentang hakikat “ada”.  Apakah sebenarnya yang kita lihat itu benar-benar ada atau hanya bayangan kita yang menggambarkan bahwa suatu hal itu benar ada. Dan juga sekedar mengingatkan kita bahwa manusia hanyalah makhluk kecil yang ada dibumi karena suatu takdir yang terbungkus dalam ”kebetulan” kecil dalam hidup.  Mungkin saja dulu hanya suatu kebetulan jika leluhurmu bertemu dengan jodohnya karena ban sepedanya bocor dijalan. Kemudian segala kebetulan-kebetulan kecil itu berurutan terjadi seperti simpul tali yang kusut dan hingga akhirnya menjadikan “ada”-nya kamu sekarang yang sedang membaca tulisanku.

Komentar